Home Investasi Simak Untung Buntung Investasi P2P Lending Dan Segala Risikonya

Simak Untung Buntung Investasi P2P Lending Dan Segala Risikonya

by Mas Abadi
Simak Untung Buntung Investasi P2P Lending Dan Segala Risikonya

Dalam dunia investasi saham, semakin besar modal yang dikucurkan maka akan semakin besar juga hasil yang didapatkan. Karena itulah investasi sendiri dianggap sebagai High risk high return. Sama halnya dengan model investasi yang sedang marak, p2p lending, yang ternyata juga tidak jauh dari kata risiko tinggi. Jika Anda tertarik mencoba, cek dulu ulasan berikut.

Definisi

FIntech Indonesia yang semakin menjamur di masa pandemi menghasilkan sebuah inovasi investasi terbaru, yakni P2PL. Istilah ini sebenarnya tidak jauh dari perkembangan Pinjol atau pinjaman online yang turut merebak. Hal tersebut karena cukup banyak aktivitas P2P yang berkaitan dengan platform pinjol tanah air.
Sistem kerja peer to peer lending (P2PL) ini sendiri adalah menggunakan konsep crowdfunding, yang mana menghubungkan beberapa pengembang atau pemberi dana dengan peminjam. Melihat konsep tersebut, tidak heran jika return atau untung yang ditawarkan pun terbilang menjanjikan. Bahkan, tidak sedikit yang memberikan return tinggi mencapai 21% per tahunnya.

Secara harfiah, P2PL sendiri dapat diartikan suatu praktik atau aktivitas pinjam meminjamkan yang dapat dilakukan secara online. Media online tersebut lantas disebut dengan marketplace. Marketplace di sinilah yang tak ayal sering disebut dengan aplikasi Pinjaman online. Pihak penjual dan pembeli akan bertransaksi secara langsung melalui platform tersebut.
Jika melihat maraknya permintaan dana pinjaman di tengah masa pandemi, tentu banyak investor yang melirik metode baru ini. Proses pinjam dan pendanaannya pun dapat dilakukan dengan mudah. Bahkan di luar negeri seperti, inggris, industri P2PL sudah sangat populer sehingga menarik banyak sekali minat investor.
Risiko Yang Harus Dihadapi

Terlepas dari tingginya angka permintaan dan persentase return yang ditawarkan, jenis investasi ini juga memiliki risiko tinggi. Seperti istilah High risk high return, para investor pun dituntut untuk selalu melek akan segala hal yang dapat terjadi. Terutama mengingat bahwa otoritas jasa keuangan (OJK) pun masih belum mengatur P2PL sampai akhir November 2016.

Baca Juga Artikel Berikut : Jadi Mode Investasi Menguntungkan, Cek Pengertian Saham Blue Chip Dan Daftar Sahamnya

1. Masih Berusia Muda

Simak Untung Buntung Investasi P2P Lending Dan Segala Risikonya

Kehadiran P2PL di Indonesia tergolong masih muda. Pengalaman, skill, hingga track record yang tersedia di dalam ranah investasi p2p masih terbatas. Karena itulah, data dan informasi mengenai jenis investasi ini juga tidak banyak. Begitu juga dengan pihak penyedia yang mana memiliki scope pasar yang masih belum tersebar dengan integritas data yang masih rumit.
Tidak jarang kehadiran platform P2PL pun masih dianggap muda juga. Dengan begitu kredibilitasnya pun masih sering dipertanyakan. Dalam kasus tertentu, investor atau lender justru mengalami kesulitan untuk melakukan validasi ulang akan keabsahan data dari platform P2P. Alhasil, terjadilah kerugian yang tidak sedikit.

2. Belum Ada Regulasi Yang Jelas

Regulasi tentu menjadi pertimbangan yang sangat penting. Namun sayangnya, masih belum ada perlindungan konsumen dari pihak regulator. Hal tersebut membuat pihak investor tidak dapat membuat pengaduan pada OJK. Bahkan, karena tidak adanya regulasi yang jelas. Semua pihak pun dapat memulai dan menjalankan bisnis ini dengan peraturannya sendiri.

3. Risiko Penunggakan Hutang

Jika pihak kreditur atau penghutang tidak membayar, maka risikonya 100% ditanggung investor. Hal ini mencakup risiko gagal bayar sepenuhnya, yang mana membuat peer to peer lending sangat berbahaya bagi investor. Pasalnya, efek dari kegagalan ini adalah kehilangan seluruh dana yang telah dikucurkan.

4. Tidak Ada Opsi Menarik Dana

Selain tidak mendapat ganti karena kreditur tidak membayar, dana yang Anda berikan pun tidak bisa ditarik di tengah jalan. Umumnya pihak investor hanya dapat menarik kucuran dana setelah pinjaman masuk jatuh tempo. Karena itulah, pihak investor harus pintar pintar melihat likuiditas investasi agar mendapat untung.

5. Risiko Operasional

Operasional di sini berkaitan dengan keberlangsungan platform P2PL. Dana yang Anda kucurkan bisa saja disalah gunakan atau hilang karena pihak P2P yang tidak bertanggung jawab. Dalam kasus tertentu, bisa saja pihak P2P mengalami kebangkrutan dan tidak dapat mengembalikan dana yang sudah Anda berikan.

Cara Mengatasi Risiko

1. Pilih P2PL Berasuransi

Untuk menghindari kerugian besar karena dana dibawa kabur atau perusahaan bangkrut, maka pastikan Anda mendapat asuransi dari pihak P2PL. Kehadiran asuransi dapat menjamin keamanan dan proteksi dana yang Anda miliki. Dengan begitu, risiko kehilangan dana karena gagal bayar atau bangkrut pun akan terminimalisir.

2. Pilih Platform Terpercaya

Cek platform yang Anda pilih pada daftar perusahaan yang ada di dalam list OJK. Per Oktober 2019, setidaknya terdapat 127 perusahaan yang telah terdaftar. Dengan masuk di dalam list tersebut, maka platform yang dipilih setidaknya telah dinilai aman dan terpercaya oleh pihak OJK. Sehingga proses transaksi pun akan terlindungi hukum.
Maraknya pinjol atau pinjaman online di masa pandemi menyulut perkembangan P2P di tanah air. Tak ayal jenis investasi P2P lending pun bermunculan. Jenis investasi ini diikuti dengan tingginya angka keuntungan, yang juga tidak lepas dari risiko yang tinggi. Apalagi mengingat bahwa jenis investasi ini masih cukup baru, sehingga lebih baik Anda memilih alternatif lain.

You may also like