Home Tabungan Perbedaan Antara Reksadana Syariah dan Konvensional

Perbedaan Antara Reksadana Syariah dan Konvensional

by Mas Abadi

Reksadana merupakan sebuah instrumen investasi yang banyak diminati oleh investor pemula, karena resikonya yang kecil dan banyak fitur menarik pada platform digital sehingga memudahkan para investor. Di Indonesia, tidak hanya ada reksadana konvensional saja, namun ada pula reksadana syariah, loh. 

Dilansir dari OCBC NISP, reksadana syariah merupakan produk dari bursa efek yang berbentuk kumpulan modal dan dikelola oleh Manajer Investasi secara syariah. Kumpulan modal tersebut berasal dari masyarakat yang akan diinvestasikan dalam bentuk surat saham, obligasi dan sukuk. 

Pada tahap pengelolaannya, tentu saja produk syariah ini sudah terjamin halal. Sebab manajer investasi tidak mendapatkan izin untuk memilih instrumen investasi yang dilarang oleh syariat Islam. Lalu, akad reksadana yang satu ini juga memakai akad mudharabah. Sehingga semua pertukaran nilai antara MI dan investor terjadi dengan tidak mengurangi hal para investor akan modalnya. 

Ada beberapa manfaat dari reksadana syariah yang bisa diterima oleh para investor, seperti: 

  • Informasi transparan. 
  • Pengelolaannya profesional. 
  • Diawasi langsung oleh Dewan Pengawas Syariah (DPS). 
  • Potensi peningkatan nilai investasi. 
  • Diversifikasi investasi. 

Jadi, apa perbedaan dari reksadana konvensional dan syariah? Yuk, simak ulasannya berikut ini. 

  • Prinsip dan sistem 

Perbedaan reksadana konvensional dan syariah yaitu terletak pada pembagian resiko dan hak. Pada reksadana konvensional, para pemilik modal dianggap menjadi orang yang memerlukan MI. Oleh sebab itu, pemilik modal harus mengikuti semua peraturan dan syarat yang sudah ditetapkan oleh MI, termasuk pembagian dividen dan biaya pengelolaan investasi. 

Jika reksadana syariah, manajer investasi dan pemilik modalnya mempunyai kedudukan yang sama dan saling membutuhkan. MI memerlukan pemilik modal untuk mengajak dan memberinya upah. Lalu, para pemilik modal memerlukan keahlian MS untuk membantunya mengelola modal. 

  • Proses kesepakatan 

Perbedaan lainnya dari reksadana konvensional dan syariah yaitu ada di poin kesepakatannya. Akad di reksadana syariah yaitu akad wakalah. Tidak terdapat perjanjian jumlah hasil investasi yang didapatkan oleh pemilik modal dan waktu tepatnya hasil tersebut akan cair. Oleh karena itu, sistem reksadana ini sangat minim resiko untuk kedua belah pihak. 

Contohnya saja, apabila suatu hari ada penurunan nilai ketika pemilik modal akan mengambil dana, maka MI harus menaikkan modal tersebut hingga sesuai dengan jumlah akad. Berbeda dengan sistem dari reksadana konvensional, para pemilik modalnya wajib berani untuk menghadapi dan mengambil resiko kehilangan dana ketika nilai aset sedang menurun. 

  • Instrumen investasi 

Hal berikutnya yang harus Anda ketahui yaitu tidak semua instrumen investasi di BEI diizinkan untuk menerima investasi syariah. OJK sudah membuat peraturan untuk hal ini dan mengeluarkan DES (Daftar Efek Syariah) sebagai panduan untuk pengambilan keputusan MI. 

Selain itu, MI juga tidak diizinkan untuk menaruh dana investasi di emiten dengan nominal hutangnya lebih dari modal perusahaan. Aturan mengenai DES dan persentase utang dan modal tersebut tidak berlaku pada reksadana konvensional. 

  • Sistem pengelolaannya 

Pengelolaan reksadana konvensional membuat MI menjadi pusat transaksi. Sehingga, para pemilik modal tidak memiliki posisi tawar untuk mengelola pembagian dividen. 

Untuk reksadana syariah, pengelolaan reksadananya saat pembagian dividen akan dibagi sesuai kesepakatan bersama. Sehingga, para pemilik modal mempunyai hak untuk bernegosiasi dan mempertanyakan mengenai dividen yang dapat diperolehnya.  

  • Pengawasan 

Untuk reksadana konvensional akan diawasi langsung oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sementara reksadana syariah akan diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah dan OJK. Tugas dari DPS ini untuk mengawasi proses pengelolaannya, mulai dari akad, distribusi dana hingga pemilihan instrumen investasi. 

Jika DPS menemukan jika reksadana yang berkaitan melanggar syariat Islam, ama DPS bisa menjatuhkan peringatan hingga pemberhentian proses investasi tersebut. DPS juga wajib melaporkan seluruh hasil pengawasannya ke Bank Indonesia setiap enam bulan. 

  • Proses “pembersihan” 

Di reksadana konvensional tidak memiliki sistem “pembersihan” atau biasa dikenal dengan cleansing sumber penghasilan dengan memisahkan antara yang non halal dan yang halal. Ketika telah sesuai dengan ketentuan investasi yang ada di OJK, maka MI sudah dapat menjual reksadana konvensional. 

Sementara untuk reksadana syariah, proses cleaning ini wajib dilakukan untuk memisahkan apakah sebuah perusahaan tersebut mempunyai pendapatan yang halal ataupun tidak ketika menjalankan bisnisnya. 

  • Akad 

Di reksadana syariah memakai akad syariah yang biasanya meliputi akad ijarah (sewa menyewa), akan musyarakah (kerjasama), akad mudharabah (bagi hasil). Berbeda dengan reksadana konvensional yang hanya menerapkan kesepakatan tanpa adanya pemisahan antara halal dan tidak halal. 

Nah, itu tadi perbedaan dari reksadana syariah dan konvensional yang harus Anda ketahui sebelum memulai berinvestasi. Jika Anda masih pemula, ada baiknya untuk mencari semua informasi tentang investasi secara lengkap agar tidak salah memilih instrumennya. Selamat mencoba!

You may also like