Home Pinjaman Mau Mengajukan KPR Syariah, Yuk Kenali Hal Ini!

Mau Mengajukan KPR Syariah, Yuk Kenali Hal Ini!

by Greg Pascal
KPR Syariah

KPR Syariah memiliki perbedaan dengan KPR Konvensional, terletak dari proses transaksi dan prinsip yang digunakan. Lantas, apa perbedaan antara KPR Syariah dan KPR Konvensional?

Sebelum membahas perbedaan KPR Syariah dan Konvensional, ketahui dahulu pengertian KPR. Apa itu KPR? Kredit Pemilikan Rumah artinya kredit yang ditawarkan oleh Bank dengan agunan atau tanpa agunan, bagi nasabah yang ingin memiliki hunian impian.

Perbedaan KPR Syariah dan KPR Konvensional terletak dari proses transaksinya. KPR Syariah biasanya menggunakan transaksi berupa barang, sementara KPR Konvensional berupa uang. Namun secara umum, tujuan dan teknis KPR Syariah mirip dengan KPR Konvensional, yang membedakan dari sistem balas jasanya.

Adapun ciri-cici KPR Syariah yang membedakan dari KPR Konvensional dari jenis akadnya, dimana Bank Syariah tidak membebankan bunga pinjaman. Untuk penjelasan lengkapnya, simak uraiannya dibawah ini untuk mengenal tentang KPR Syariah.

Akad KPR Syariah

Jenis akad yang biasa diterapkan dalam pembiayaan Kredit Pemilikan Rumah berbasis Syariah adalah sebagai berikut.

1. Akad Murabahah

Akad Murabahah atau akad jual beli ini adalah perjanjian jual beli yang telah disepakati keuntungannya antara pihak Bank dan nasabah.

Bank Syariah akan membeli barang atau rumah yang diperlukan nasabah, kemudian rumah tersebut dijual kepada nasabah bersangkutan dengan harga pokok ditambah dengan keuntungan yang telah disepakati kedua belah pihak.

Dalam hal ini, pihak Bank Syariah tidak mengenakan bunga atas pembayaran cicilan oleh nasabah, keuntungannya diperoleh dari penjualan rumah yang telah disepakati sejak awal, begitu halnya dengan jangka waktunya atas kesepakatan kedua belah pihak, sehingga besar cicilannya tetap sama per bulannya.

2. Akad Musyarakah Mutanaqisah

Dalam akad musyarakah mutanaqisah antara nasabah dan pihak Bank Syariah melakukan kerjasama dengan porsi kepemilikan yang telah disepakati.

Dalam hal ini, Bank Syariah dan nasabah kerjasama membeli rumah dengan pembagian biaya yang telah disepakati. Misalnya Bank 70% dan nasabah 30%, maka nasabah akan membeli rumah dari Bank Syariah dengan cicilan yang besar biayanya ditentukan berdasarkan kesepakatan antara Bank Syariah dan nasabah.

3. Akad Istisha

Dalam akad istisha ini, nasabah akan meminta Bank Syariah untuk membuatkan rumah. Setelah rumah tersebut selesai dibangun, maka nasabah akan melakukan pembelian dari pihak Bank Syariah.

Biaya yang nasabah keluarkan tidak hanya untuk pembangunan rumahnya saja, tetapi ada tambahan untuk biaya jasa pembangunan yang harus dibayar ke Bank Syariah.

4. Akad Ijarah Muntahiyyah bit Tamlik

Dalam akad ijirah muntahiyyah bit tamlik atau sewa-beli, dimana nasabah akan diminta untuk menyewa rumah kepada pihak Bank Syariah dalam jangka waktu tertentu.

Pada akhir masa sewa, Bank Syariah akan memberikan pilihan untuk menjual rumah tersebut kepada nasabah, juga bisa menghibahkan nya secara langsung.

Itulah akad dalam KPR Syariah yang perlu diketahui, dimana dalam proses pembayarannya tidak dikenakan bunga, sesuai dengan prinsip syariah yang bebas dari riba.

KPR Syariah

Baca Artikel Selanjutnya :

Fitur dan Keuntungan KPR Syariah

Apabila anda memiliki rencana Kredit Pemilikan Rumah di Bank Syariah, ada beberapa fitur dan keuntungan yang bisa diperoleh, diantaranya.

  1. Proses permohonan untuk pengajuan KPR Syariah mudah dan cepat
  2. Nasabah bisa memilih membeli rumah baru maupun bekas
  3. Plafon pembiayaan yang besar
  4. Jangka waktu pembiayaan yang panjang
  5. Fasilitas autodebet dari tabungan induk
  6. Bebas dari bunga pinjaman

Keuntungan KPR Syariah bagi nasabah adalah tidak dikenakan bunga untuk setiap transaksi pembayaran cicilan per bulannya, prinsip yang diterapkan sesuai dengan konsep syariah dan bebas riba.

Syarat Pengajuan KPR Syariah

Adapun persyaratan yang harus dipenuhi untuk mengajukan KPR Syariah diantaranya

  1. Pemohon merupakan Warga Negara Indonesia (WNI), dan tidak pernah terjerat masalah hukum
  2. Pemohon berusia minimal 21 tahun dan maksimal 55 tahun dihitung pada saat jatuh tempo pembiayaan
  3. Tidak melebihi maksimum pembiayaan
  4. Besarnya cicilan tidak melebihi 40% penghasilan bulanan bersih pemohon
  5. Khusus untuk kepemilikan pertama, KPR Syariah masih diperbolehkan atas unit yang belum selesai dibangun atau inden, tetapi tidak diperbolehkan untuk kepemilikan unit rumah selanjutnya.
  6. Perihal pencairan pembiayaan bisa diberikan sesuai dengan perkembangan pembangunan rumah, atau atas kesepakatan para pihak terkait.
  7. Untuk pembiayaan unit rumah uang belum selesai dibangun atau inden, harus melalui perjanjian kerjasama antara pengembang dengan Bank Syariah.

Apakah anda berminat mengajukan KPR Syariah? Dengan keuntungan tidak ada bunga dan setiap pembiayaan pembangunan bisa melalui kesepakatan antara nasabah dan Bank Syariah, sehingga anda bisa menyesuaikan dengan kondisi keuangan yang ada. 

KPR Syariah dan KPR Konvensional memiliki perbedaan mendasar dalam hal balas jasanya, bagi anda yang akan mengajukan KPR bisa mempertimbangkan akan melalui jasa keuangan yang mana untuk pembiayaan membangun rumah impian. Terpenting sesuaikan dengan kemampuan keuangan dan kebutuhan anda.

You may also like