Home Perencanaan Sekilas mengenai Income Smoothing

Sekilas mengenai Income Smoothing

by Mas Abadi

Perataan laba atau income smoothing bukan menjadi hal yang baru terjadi dunia perekonomian khususnya di negara Indonesia. Lewat data yang dirilis oleh Badan Pengawas Pasar Modal atau Bapepam, ada beberapa kasus pada praktik perataan laba (income smoothing) yang sudah pernah terjadi sebelumnya.

Praktik income smoothing sendiri terjadi di beberapa perusahaan besar ternama tanah air sepertiĀ  PT. Ades Alfindo, PT. Indofarma Tbk, serta PT. Kimia Farma Tbk. Dimana perusahaan-perusahaan besar ini telah diduga melakukan penggelembungan keuntungan ke dalam laporan keuangan perusahaan dan merugikan para pihak investor ke perusahaan tersebut.

Pada intinya perataan laba atau income smoothing ini adalah sebuah tindakan atau upaya yang mana manajer perusahaan secara sengaja melakukan pengurangan fluktuasi laba yang ia laporkan supaya mencapai jumlah keuntungan yang diharapkan. Perataan laba atau income smoothing adalah salah satu bagian dari manajemen laba.

Serupa dengan manajemen laba, dimana konsep income smoothing di latar belakangi dengan teori keagenan, yang pada prosesnya mengasumsikan agent sebagai manajemen dan principal sebagai pemilik yang sama-sama mempunyai kepentingan agar dapat memaksimalkan utilitas setiap bagian dari informasi yang ada, sehingga dapat menimbulkan sebuah konflik kepentingan yakni munculnya asimetri informasi dalam perusahaan.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Income Smoothing (Perataan Laba)

Berbicara mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi praktik income smoothing di sebuah perusahaan terbilang beragam, seperti yang sudah dikemukakan oleh berbagai penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya. Faktor-faktor itu antara lain berupa profitabilitas, harga saham, sektor industri, ukuran perusahaan, rencana bonus serta kebangsaan hingga leverage operasi.

Namun di beberapa hal lainnya, hasil dari penelitian yang ada ini berbeda walau mengukur kasus yang serupa. Berangkat dari peristiwa barusan, maka penelitian tersebut akan memperlihatkan faktor-faktor yang berkaitan oleh tindakan atau praktik income smoothing yang belum sepenuhnya, dan memperlihatkan dan hasil yang sama antara penelitian satu oleh hasil penelitian lain.

Pengguna catatan keuangan perusahaan lebih condong ke laba dibandingkan ke item catatan keuangan lain. Beberapa sumber juga mengatakan bahwasannya informasi laba umumnya adalah perhatian utama di dalam menaksir pertanggungjawaban atau kinerja manajemen perusahaan, selain itu bagian informasi laba pun dapat membantu pihak pemilik dari perusahaan dan pihak lain nya ketika akan menaksir hal tersebut di kemudian hari.

Selain itu informasi yang ada di dalam perhitungan akuntansi akan sangat berguna bila keuntungan yang sebenarnya berbeda oleh laba yang sudah diharapkan. Tidak sedikit perusahaan ternama yang meyakini bahwa harga saham milik mereka akan terus meningkat jika keuntungan bersih yang dilaporkan meningkatkan secara signifikan setiap tahunnya.

Kondisi ini akan mengakibatkan, dimana mereka akan memutuskan untuk memilih prosedur yang dapat menghasilkan keuntungan tertentu guna memenuhi target perusahaan yang diharapkan. Pihak pemilik juga akan mendorong bagian manajemen untuk bisa memaksimumkan utilitas perusahaan untuk mencapai target yang sudah ditetapkan. Agar dapat membuat entitas terlihat mapan dan bagus secara finansial. Upaya tersebut dikenal dengan istilah manajemen laba.

Pengertian Manajemen Laba dalam Perusahaan

Manajemen laba merupakan salah satu teknik akuntansi yang digunakan untuk dapat menyajikan catatan keuangan positif dari sektor kegiatan bisnis serta posisi finansial perusahaan. Dalam arti lain, earning management atau manajemen laba memanfaatkan penerapan terkait aturan akuntansi untuk dapat melahirkan laporan keuangan dengan cara menggelembungkan keuntungan.

Istilah dari earning pada kasus tersebut merujuk ke penghasilan atau keuntungan bersih milik perusahaan pada periode tertentu. Seperti satu tahun fiskal atau kuartal.

Umumnya, perusahaan memakai manajemen laba agar dapat memperhalus fluktuasi keuntungan sehingga keuntungan tersaji di dalam laporan keuangan bisa lebih konsisten di setiap bulannya, kuartal ataupun tahun.

Fluktuasi laba adalah hal yang sangat wajar terjadi di dalam operasional suatu perusahaan tertentu. Namun, setiap perubahaan yang ada mungkin bisa membuat para investor khawatir karena karakter di penanaman modal cenderung menyukai keuntungan yang stabil dan terus mengalami peningkatan.

Setelah pengumuman earning atau pendapatan bagi perusahaan terkait, harga sama dari perusahaan itu pun berkemungkinan naik atau menurun. Oleh sebab itu, pihak manajer kadang melakukan upaya intervensi lewat penerapan sistem manajemen laba.

Sebagai bentuk upaya agar dapat mengarahkan tingkatan keuntungan yang dilaporkan ke pihak stakeholder atau internal perusahaan, praktik manajemen laba ini dianggap sudah dibatasi oleh pihak General Adopted Accounting Principle (GAAP) sebagai bentuk intervensi yang sifatnya kecurangan.

Peristiwa ini hingga saat ini masih menjadi perbincangan dan ada yang pro dan kontra. Bagi sebagian orang, manajemen laba ini dianggap sebagai sebuah intervensi yang sifatnya cenderung ke perilaku curang. Akan tetapi, banyak juga pihak lain yang beranggapan manajemen laba bukanlah hal yang bersifat curang selama dilakukan sesuai prosedur akuntansi yang bisa diakui dan diterima secara luas.

You may also like